Karya Siswa

Inilah Karya Siswa: Kumpulan kreasi visual yang menampilkan bakat dan ide segar para pelajar. Setiap lukisan adalah hasil kerja keras dan kejujuran tentang pandangan mereka terhadap dunia, mulai dari kampung halaman hingga mimpi-mimpi besar. Mari kita nikmati hasil ekspresi otentik mereka di atas kanvas.

Tema: Hubungan manusia dan budayanya

Lukisan ini dibuat oleh: Iam Cello Sambo Paku, Kelas 11 Sekolah Lentera Harapan Toraja.

Iam Cello Sambo Paku, merupakan seorang siswa kelas 11 Sekolah Lentera Harapan Toraja yang telah menerima bantuan sponsor pendidikan program Lentera Bagi Bangsa. Sebagai anak yang dibesarkan di daerah Toraja yang memiliki kekayaan budaya, Iam belajar sejak dini untuk dapat menuangkan kebudayaan daerahnya kedalam hobinya yaitu melukis. 

Sebagai seorang yang berasal dari daerah Gandang Batu Sillanan, saya berusaha menangkap esensi dan keunikan dari budaya leluhur saya dalam lukisan ini. 

Pesan utama dalam lukisan ini yaitu bahwa dalam hidup ini, selalu ada dua kutub yang berbeda: Laki laki dan perempuan, sukacita (Rambu tuka’) dan dukacita (Rambu solo’).

Perempuan lanjut usia di sebelah kiri menggambarkan dukacita dengan mengenakan pa’lullung hitam, pakaian adat suku Gandang Batu Sillanan yang biasa digunakan dalam acara kedukaan. Sedangkan laki laki di sebelah kanan di lukisan ini adalah seorang penari tarian Manganda (tarian sukacita) dan mengenakan pakaian adat Rambu tuka’ yang digunakan untuk acara-acara perayaan.

Tema: Keindahan Alam dan Budaya

Makna dari lukisan:

    • Gunung: Melambangkan kekayaan alam Papua.
    • Sungai: Melambangkan sumber kehidupan.
    • Pohon Kelapa Hutan: Melambangkan keanekaragaman hayati alam Papua.
    • Honai: Melambangkan rumah adat dan tempat bernaung.
    • Fajar: Simbol harapan di ufuk timur.

    Lukisan “Semenanjung di Ufuk Timur” terinspirasi dari kehidupan Frince di sebuah desa kecil di pedalaman Papua. Gambar ini secara simbolis ingin menggambarkan kekayaan alam Papua yang indah dan melimpah. Salah satu aspek uniknya adalah Pohon Kelapa Hutan, yang tumbuh subur di daerah pegunungan Papua. Pohon ini hanya berbuah satu kali dalam setahun, menjadi simbol kekayaan alam tersembunyi di ufuk timur negeri ini.

    Fajar Harapan Desa Mamit, Papua

    Frince Wakur berasal dari Desa Mamit di Papua Pegunungan, sebuah wilayah yang dikelilingi gunung-gunung tinggi dan telah lama terisolasi dari dunia luar. Sebagai anak kedua dari delapan bersaudara—dan menjadi yang tertua setelah kakaknya meninggal—Frince tumbuh dalam kehidupan sederhana di desa terpencil tanpa akses transportasi menuju kota.  Kehadiran Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Mamit menjadi titik balik yang menyalakan harapan baru dalam hidupnya. Dari sekolah inilah ia mulai berani bermimpi. Ketika Frince mendapat kesempatan untuk diterbangkan melanjutkan pendidikan di SLH Gunung Moria, ia menjadi generasi pertama dari keluarganya di Desa Mamit yang keluar dan melihat dunia luar. Perjalanan itu mengubah cara pandangnya terhadap masa depan.  
    Lulus dari SLH Gunung Moria pada tahun 2025, Frince kini melanjutkan studinya sebagai mahasiswa semester 1 di Faculty of Nursing, Universitas Pelita Harapan. 

    Makna Lukisan 
    Karya lukisan ini menyingkap sebuah narasi visual yang berdenyut dari jantung Desa Mamit, Papua—tanah kelahiran Frince, tempat setiap embusan angin membawa cerita. Pada kanvas ini, fajar tidak sekadar hadir; ia bangkit sebagai simbol Harapan, cahaya pertama yang menyalakan kembali mimpi, tekad, dan perjalanan masyarakatnya. 
    Di bawah bayang pegunungan yang agung, kehidupan sehari-hari tampak menjelma menjadi puisi yang bergerak. Terlihat seorang Mama Papua melangkah mantap sambil menenteng noken, menuju kebun untuk memanen berkah tanah. Sementara itu, para bapak pulang dari hutan dengan kayu bakar di pundak, tubuh mereka membentuk siluet keteguhan—lambang kerja sama, ketahanan, dan keyakinan bahwa hidup, betapapun keras, selalu layak diperjuangkan. Pada hamparan langit yang sama, seekor Burung Cenderawasih dilukiskan menari dengan anggun, kepak sayapnya memancarkan identitas dan kebanggaan bumi Cenderawasih. Bagi Frince, burung ini bukan sekadar ikon; ia adalah penjaga keindahan, penanda kelestarian, dan titisan harapan akan masa depan budaya Papua yang terus dijaga dalam denyut generasi baru. 
    Unsur budaya itu makin hidup lewat hadirnya Rumah Honai yang hangat dan kokoh—penjaga tradisi di tengah waktu—serta Pohon Matoa yang bergelimang buah merah, yang bagi masyarakat Mamit bukan hanya anugerah alam, tetapi juga sumber penyembuhan dan kekuatan. Melalui lukisan ini, Frince merangkai harmoni antara keelokan alam, keteguhan warganya, dan pesan yang menggema: bahwa budaya, tanah kelahiran, dan warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dijaga, dipeluk, dan diteruskan.

    Cendrawasih & Kipee

    Asedi adalah salah satu anak perempuan pertama dari desanya, Daboto, yang mendapatkan kesempatan bersekolah melalui Sekolah Lentera Harapan. Banyak masyarakat di desanya masih memegang teguh kepercayaan animisme, dan perjalanan hidup bukanlah hal yang mudah. Saat Asedi masih kecil, ibunya bahkan memotong jarinya sendiri sebagai bagian dari ritual perlindungan setelah kehilangan semua anaknya sebelum Asedi. Asedi hampir dinikahkan pada usia enam tahun, karena pernikahan dini masih menjadi hal umum bagi anak perempuan di desanya. Namun, ketika pendidikan mulai hadir, perubahan pun terjadi. Hari ini, Asedi melanjutkan studinya di SLH Moria, Karawaci, mengejar mimpinya untuk menjadi perawat, dengan harapan suatu hari dapat kembali ke desanya dan melayani masyarakatnya.

    Makna Lukisan

    Lukisan ini menggambarkan burung cendrawasih, makhluk anggun yang menjadi simbol keindahan, kebanggaan, dan warisan budaya tanah Papua. Populasi cendrawasih yang terus menurun mendorong Asedi untuk menghadirkan karya ini sebagai pengingat bahwa burung surga tersebut harus dijaga dan dilindungi. Bagi masyarakat Papua, cendrawasih adalah hati tanah Papua, lambang kekayaan alam yang tidak ternilai, dan salah satu ikon yang membuat dunia mengenal Papua. Dalam karyanya, Asedi juga memasukkan ‘kipee’, mata uang tradisional Papua yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Kipe digunakan sebagai alat transaksi dalam keseharian, namun juga memegang fungsi adat yang sangat kuat—terutama sebagai mahar ketika seorang laki-laki melamar perempuan. Nilai satu kipe dapat menjadi sangat tinggi. Kehadiran kipe dalam lukisan ini memperkuat pesan bahwa cendrawasih dan budaya yang menyertainya adalah warisan berharga yang harus dilestarikan.

    Melalui karya ini, Asedi ingin mengajak setiap orang untuk tidak hanya menikmati keindahan cendrawasih, tetapi juga memahami nilai budaya yang mengitarinya. Menjaga cendrawasih berarti menjaga identitas, tradisi, dan kekayaan leluhur Papua.

    Video

    Bantu Yakub Meraih Cita-Cita

    Marilah menjadi lentera bagi anak-anak yang memerlukan pertolongan kita. Anda dapat memberikan beasiswa pendidikan bagi anak-anak Sekolah Lentera Harapan (SLH) yang membutuhkan dukungan di 27 sekolah di Indonesia. Melalui program Lentera Bagi Bangsa (LBB), anda dapat ambil bagian di dalamnya.


    Video

    Bantu Bethari melanjutkan sekolah

    Marilah menjadi lentera bagi anak-anak yang memerlukan pertolongan kita. Anda dapat memberikan beasiswa pendidikan bagi anak-anak Sekolah Lentera Harapan (SLH) yang membutuhkan dukungan di 27 sekolah di Indonesia. Melalui program Lentera Bagi Bangsa (LBB), anda dapat ambil bagian di dalamnya.


    Kisah Siswa

    Naomi, Anak Nelayan Berjualan di Warung dan Ikut Lomba Olimpiade Nasional Informatika

    Naomi merupakan siswa kelas 11 di SLH Gunungsitoli Utara, Nias. Sejak awal orangtuanya ragu menyekolahkan Naomi di SLH karena keterbatasan ekonomi keluarga mereka. Ayahnya seorang nelayan dan ibunya membuka warung kecil di rumah mereka. Kedua orangtuanya berjuang agar bisa menyekolahkan Naomi. Tidak jarang ayahnya kesulitan mendapatkan ikan jika ada badai. Keseharian Naomi selain belajar adalah membantu ibunya berjualan di warung agar ibunya dapat beristirahat. Naomi juga membersihkan rumah. Naomi merupakan siswa berprestasi. Sejak kelas 10 Naomi mewakili sekolah pada lomba Olimpiade Nasional dalam bidang Informatika. Ia terus belajar agar bisa membanggakan kedua orangtuanya di tengah keterbatasan ekonomi yang dihadapi. Ia berharap usahanya tidak menyia-nyiakan berkat Tuhan. Berkat bantuan donatur, Naomi tetap bisa melanjutkan sekolah dan berjuang untuk masa depannya.

    Kisah Siswa

    Kisah Asedi: Siswa Interior Papua, Tantangan Hidup, Harapan dan Doa

    Asedi lahir di Daboto, sebuah desa terpencil di pegunungan Papua. Sejak kecil, ia sudah terbiasa berjalan kaki berjam-jam melintasi pegunungan hanya untuk pergi ke sekolah. Malam hari, ia belajar di bawah cahaya api, satu-satunya sumber penerangan di rumah sederhana keluarganya. Hidupnya penuh perjuangan — empat saudara kandungnya meninggal di usia muda, dan Asedi sendiri pernah kehilangan satu jari karena kepercayaan adat. Meski sering sakit dan menghadapi banyak keterbatasan, semangatnya untuk belajar tak pernah padam. Ketika ayahnya meninggal dunia karena tidak ada akses layanan kesehatan, tumbuh tekad dalam hati kecil Asedi: suatu hari nanti, ia ingin menjadi dokter agar orang-orang di desanya tidak lagi kehilangan nyawa tanpa pertolongan. Perjalanannya hampir terhenti ketika pamannya hampir menikahkannya dengan seorang pria dari desa lain. Namun dengan keberanian dan iman, Asedi menulis surat kepada pamannya, mengingatkan janji bahwa ia harus bersekolah sampai berhasil. Tuhan menjawab doanya — ia diizinkan melanjutkan sekolah, dan kini Asedi bersekolah di SLH Gunung Moria, Karawaci. Dari seorang gadis kecil di pedalaman yang belajar di bawah cahaya api, kini Asedi menyalakan terang harapan melalui semangat dan karya seninya. Setiap langkahnya menjadi bukti bahwa dari luka dan keterbatasan, Tuhan sedang menulis kisah yang penuh harapan.

    Kisah Siswa

    Melihat Lebih Dekat Kisah Bunga dan Arti Kesempatan

    Bunga adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia membantu orang tua di rumah, menjaga adik-adiknya, dan tetap berkomitmen pada tugas sekolah. Meski hidup dalam keterbatasan, Bunga tumbuh sebagai pribadi yang ceria, disiplin, dan bertanggung jawab. Ayah Bunga bekerja sebagai penambal ban dengan penghasilan yang tidak menentu, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Di sekolah, Bunga aktif dalam pelayanan Chapel dan pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika hingga babak final. Pengalaman tersebut memperkuat minatnya pada bidang angka dan logika. Bunga bercita-cita menjadi aktuaris atau berkarier di bidang pertambangan. Bidang yang menurutnya tidak hanya berpotensi membuka peluang bagi keluarganya, tetapi juga memungkinkan dirinya membawa dampak positif bagi masyarakat. Keterbatasan ekonomi menjadi tantangan dalam perjalanan pendidikannya. Dalam situasi tersebut, program sponsor pendidikan Lentera Bagi Bangsa (LBB) hadir memberikan dukungan.

    Kisah Siswa

    Petrus: Harapan yang Tumbuh di Tengah Keterbatasan

    Petrus adalah salah satu siswa kelas 12 SLH Kupang yang menerima dukungan sponsor pendidikan LBB. Saat ia duduk di kelas 10, keluarganya mengalami duka mendalam dengan berpulangnya sang ayah. Kepergian ayahnya membuat ibunya harus bekerja di warung kecil milik kerabat demi mencukupi kebutuhan sehari-hari bagi Petrus dan adiknya. Namun, kejadian ini tidak mematahkan semangat belajar Petrus. Ia dikenal sebagai siswa yang cerdas dan penuh tanggung jawab, serta memiliki kegemaran di bidang olahraga, khususnya basket. Ketekunannya berhasil menorehkan prestasi sebagai pemain basket andalan SLH Kupang, mengantarkan timnya meraih posisi ke-4 di ajang DBL — kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia. Bagi Petrus, setiap pertandingan adalah simbol perjuangan. Semangat yang sama ia bawa dalam mengejar cita-citanya menjadi anggota polisi, berlatih fisik dan belajar mandiri sejak kelas 10.

    Masih banyak anak Indonesia yang menanti bantuan Anda